Makanan Yang Halal Untuk Dia Tetapi Haram Untuk Saya

Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi, adalah seorang ulama terkenal di Makkah yang menceritakan riwayat ini. Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka: • “Berapa banyak yang datang tahun ini?,” tanya malaikat kepada malaikat lainnya. • “Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya. • “Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?” • “Tidak satupun” Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?” Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.” • “Kok bisa” • “Itu Kehendak Allah” • “Siapa orang tersebut?” • “Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq (sekarang ini namanya Damaskus)” Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Syria atau Syam. Sampai di sana, ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah. “Ada, di tepi kota”. Jawab salah seorang tukang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai di sana, ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh, “Benarkah Anda bernama Sa’id bin Muhafah?,” tanya ulama itu. • “Betul, siapa tuan?” • “Aku Abdullah bin Mubarak” • Said pun terharu, “Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?” Sejenak ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya. “Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah Anda perbuat, sehingga Anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”. “Wah saya sendiri tidak tahu!”, jawab Sa’id bin Muhafah. “Coba ceritakan bagaimana kehidupan Anda selama ini,” ucap ulama tersebut. Maka Sa’id bin Muhafah bercerita, “Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar: Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarikalaka”. (Artinya: Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu). Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis, Ya allah aku rindu Makkah. Ya Allah aku rindu melihat Ka’bah. Ijinkan aku datang….. Ijinkan aku datang ya Allah.. Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu, setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji”. • “Saya sudah siap berhaji” • “Tapi Anda batal berangkat haji” • “Benar” • “Apa yang terjadi?” • “Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat” • “Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?“ • “Ya sayang” • “Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”. • “Sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Di situ ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya. Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan: “Tidak boleh tuan”. • “Dijual berapapun akan saya beli” • “Makanan itu tidak dijual, tuan,” katanya sambil berlinang mata. • Akhirnya saya tanya kenapa? • Sambil menangis, janda itu berkata, “Daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan”, katanya. Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama Muslim?. Karena itu saya mendesaknya lagi, “Kenapa?” “Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. “Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya, kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram”. Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, dia pun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu. “Ini masakan untuk mu” Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka. ”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”. Ya Allah……… di sinilah Hajiku. Ya Allah……… di sinilah Makkahku. Mendengar cerita tersebut, Abdullah bin Mubarak pun tak bisa menahan air matanya.. Maa shaa Allah… Hikmah yang bisa diambil dari kisah diatas adalah bentuk kasih sayang dan murahnya Allah jalla wa ‘ala kepada hamba-hambaNya. Niat dan tekad yang kuat untuk berbuat baik adalah satu kebaikan dimata Allah, meskipun kebaikan itu belum mampu dilaksakan.. Dari Khuraim bin Fatik Al-Asadiy radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، فَعَلِمَ اللهُ أَنَّهُ قَدْ أَشْعَرَهَا قَلْبَهُ، وَحَرَصَ عَلَيْهَا، كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْهِ، وَمَنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ وَاحِدَةً وَلَمْ تُضَاعَفْ عَلَيْهِ، وَمَنْ عَمِلَ حَسَنَةً كَانَتْ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا [مسند أحمد: حسن] “Dan barangsiapa yang bertekad untuk berbuat kebaikan, namun ia tidak melakukannya, kemudian Allah mengetahui bahwa hatinya telah memiliki keinginan keras untuk melakukan amalan tersebut, maka Allah akan menuliskannya sebagai amalan kebaikan. Dan barangsiapa yang bertekat untuk melakukan kejahatan, maka hal itu belum ditulis sebagai suatu keburukan, dan siapa yang melakukannya, baru akan ditulis baginya satu keburukan dan keburukan itu tidaklah dilipat-gandakan. Dan barangsiapa yang beramal kebaikan, maka kebaikan itu akan dilipatgandakan baginya menjadi sepuluh kebaikan”. [Musnad Ahmad: Hasan] Hikmah yang lain adalah hendaknya kita berbuat baiklah kepada hamba Allah yang di bumi, niscaya Allah dan seluruh penghuni langit akan merahmati kita.. الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ “Orang-orang yang mengasihi dirahmati oleh Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), kasihilah yang ada di bumi nicaya Yang di langit akan mengasihi kalian”. (HR Abu Dawud) لاَ يَرْحَمُ اللهَ مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ “Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi manusia” (HR. Bukhari). Wallahu a’lam… [Ustadz Qutaibah] عبد الله ابن المبارك الكتاب”الجهادفي سبيل الله Maroji’ (Rujukan) cerita diatas: 1. Al-Imam Adz-Dzahabi membuat kitab khusus tentang Imam Ibnul Mubarak yaitu “قضِّ نهارك بأخبار ابن المبارك”،penggalan kisah ini ada didalamnya. 2. Begitu juga di kitab “Siyar A’lam An-Nubala” karya Adz-Dzahabi juga, engan lebih lengkap (8/378-421), 3. Tarikh Kabir (5/212), Tarikh Sagheer(2/225) Hilyatul Awliya (8/162) Tarikh Baghdad (10/152), 4. Dan sebahagiannya di Tahzibu Kamal dan Tazkiratul Huffaz, dan lain-lain

Dampak Positif Manfaat Membaca Al-Qur’an Setelah Subuh & Maghrib

Menurut hasil penelitian, ternyata membaca Al-Qur’an setelah waktu sholat Maghrib dan Subuh itu dapat meningkatkan kecerdasan otak sampai 80 %. Hal ini karena disana ada pergantian dari siang ke malam dan dari malam ke siang hari. Disamping itu, ada tiga aktivitas sekaligus, yakni membaca, melihat dan mendengar. Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang itu kuat ingatan atau hafalannya, diantaranya: 1. Menyedikitkan makan 2. Membiasakan melaksanakan ibadah shalat malam 3. Dan membaca Al-Qur’an sambil melihat kepada mushaf Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat manusia, dan juga memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca dengan Kitab Suci Al-Qur’an. Selain itu, membaca Al-Qur’an juga mendatangkan pahala dari Allah SWT. Dokter ahli jiwa, Dr. Al Qadhi melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat (AS) berhasil membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, maka seorang Muslim itu, baik mereka yang bisa berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan sebagai berikut: 1. Fisiologis yang sangat besar 2. Penurunan depresi, kesedihan 3. Memperoleh ketenangan jiwa 4. Menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yg dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bahwa membaca Al-Qur’an berpengaruh besar hingga 97 % dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984 disebutkan, Al-Qur’an terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97 % bagi mereka yang mndengarkannya. Masya Allah… Untuk itu, mari sekarang ini kita mulai meluangkan waktu kita beberapa menit dari 24 jam di hari kita, yang diberikan oleh Allah SWT untuk membaca, merenungi, mentadaburi dan memahami isi yang ada didalam Kitab Suci Al-Qur’an.

Kisah Para Sahabat Nabi Abu Bakar Ash-Shidiq & Umar bin Khaththab yang Berlomba dalam Kebaikan

Siapa yang tidak kenal dengan sahabat yang satu ini, sahabat yang terkenal dengan kejujuran dan kebaikan serta kemuliaan akhlaq, baik dimasa jahiliyyah, dan terlebih pada saat setelah datangnya hidayah Islamiyyah.
  
Nama asli beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimy. Nasab beliau bertemu dengan nasabnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek keenam, yaitu Murrah bin Ka’ab.

Bapak beliau, Utsman bin Amir, akrab dipanggil Abu Quhafah. Ibu beliau adalah Ummul Khair yaitu Salma binti Shohr bin Amir. Berarti sang ibu adalah putri pamannya (sepupu) bapak. Beliau dilahirkan dua tahun enam bulan setelah Tahun Gajah. Dan beliau lebih dikenal dengan panggilan Abu Bakar Ash-Shidiq.

Sejak Abu Bakar menjadi laki-laki pertama sekaligus manusia kedua setelah Khadijah yang menyatakan keIslamannya dan pembenarannya kepada Rasulullah, maka bisa kita ambil kesimpulan bahwa beliau adalah orang yang selalu bersegera terhadap suatu kebaikan yang diyakininya.

Hal ini terbukti ketika semua penduduk Mekkah dari kalangan petinggi-petinggi Quraisy hingga rakyat biasa menolak serta mencemooh kebenaran Rasulullah, justru Abu Bakar tampil menjdi orang yang lantang menerima dan membenarkan Rasulullah, sehingga gelar Ash-Shidiq yakni orang yang selalu membenarkan Rasulullah pun melekat pada diri beliau.

Sungguh kebaikan pasti akan melahirkan kebaikan setelahnya. Begitulah diri Abu Bakar. Setelah kebaikan menjadi orang yang terdepan masuk Islam ada pada dirinya, lahirlah pada dirinya pula sikap selalu dibarisan terdepan dalam segala kebaikan dan ketaatan.

Berbagai peristiwa besar, seperti kisah masuk Islamnya banyak para sahabat juga lewat tangan Abu Bakar. Abu Bakar juga menjadi teman hijrahnya Rasulullah ke Yatsrib atau sekarang yang lebih dikenal dengan nama Madinah. Perang Badar, perang Uhud, Khaddaq, Fathu Makkah, perang Tabuk dan perang lainnya telah menjadi saksi betapa gigihnya sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang selalu terdepan dalam segela bentuk kebaikan dan ketaqwaan.

Dikisahkan bahwa Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang gigih berlomba-lomba dalam amal kebaikan yang mulia ini, yang pelakunya mendapatkan kebaikan besar di dunia dan banyak pahala di akhirat.

Kisah Abu Bakar ini terjadi pada masa Abu Bakar Ash-Shidiq. Pada saat itu, Umar mengamati apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, lalu dia melakukan dua kali lipatnya sehingga dia mendapatkan kebaikan dan mendahului Abu Bakar ke tingkat surga tertinggi.

Suatu hari Umar mengamati Abu Bakar Ash-Shidiq di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Umar mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia urusan gubuk itu.

Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar Ash-Shidiq tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar tetap belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.

Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapatkan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan yang dilihatnya. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar.

Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar) di sini?”. Nenek tua itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku”.

Umar menekuk kedua lututnya, kedua matanya basah oleh air mata. Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh engkau telah membuat lelah para Khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar”.

Sehingga tidak asing lagi bahwa dalam persaingan tersebut, Abu Bakar lah yang selalu jadi pemenangnya. Bahkan dalam perang Tabuk, Umar pernah berkata, “Hari ini aku pasti bisa mengungguli Abu Bakar:. Dia pergi dengan membawa separuh hartanya kepada Rasulullah. Maka Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?”. Umar menjawab, “Aku telah menyisakan separuh harta bendaku untuk keluargaku”.

Tiba–tiba Abu Bakar datang membawa harta bendanya, lalu meletakkannya di pangkuan Rasulullah. Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?”. Abu Bakar menjawab, “Aku telah menyisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Umar pun sadar bahwa pada saat itu kebaikan Abu Bakar telah mengungguli kebaikannya. Bukan hanya pada kali ini saja Abu Bakar selalu mengalahkan Umar dalam masalah kebaikan.

Diriwayatkan pula, pada suatu hari setelah melaksanakan shalat subuh, Rasulullah bertanya, “Siapakah di antara kalian yang melakukan puasa di hari ini?”. Umar berkata, “Wahai Rasulullah, malam tadi aku tidak berniat puasa sehingga sekarang aku tidak berpuasa”. Abu Bakar berkata, “Aku wahai Rasulullah, malam tadi aku berniat berpuasa sehingga sekarang aku berpuasa”.

Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?”. Umar berkata, “Sekarang kita hanya melakukan shalat, bagaimana kita bisa menjenguk orang sakit?”. Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, aku mendengar kabar bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sakit, lalu aku menjenguknya kemudian baru aku datang ke masjid”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melanjutkan pertanyaannya, “Siapakah di antara kalian yang telah berderma di hari ini?”. Umar berkata, “Wahai Rasulullah, kami masih selalu bersamamu, bagaimana kami bershadaqah?”. Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, di saat aku akan masuk ke masjid tiba-tiba ada orang yang meminta-minta, saat itu juga aku melihat putera Abdurrahman bin Abu Bakar membawa sepotong roti, roti itu kemudian aku ambil dan aku berikan kepada peminta-minta tersebut”.

Maka shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bergembiralah dengan surga, bergembiralah dengan surga”.

Maashaa Allah… Betapa Allah memuliakan sahabat Abu Bakar karena bersegeranya dalam segala macam kebaikan, sampai-sampai pada suatu hari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke Gunung Uhud dan bersama beliau ada Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Maka Uhud bergetar, lantas Rasulullah pun menenangkannya seraya mengatakan, “Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu ada seorang Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid”. (HR. Bukhari, no. 3472)

Maka tidak berlebih-lebihan jika para penghuni langit dan bumi menyanjung-nyanjung kebaikan amalnya bahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga sepakat bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah adalah para sahabat dan sebaik-baik sahabat adalah Abu Bakar dan Umar atas seluruh para sahabat.

Berkata Al-Imam asy-Syafi’i, “Tidak ada seorang pun yang berselisih dari kalangan para sahabat dan tabi’in tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar atas seluruh para sahabat”. (Kitabul I’tiqad, 192)

Berkata pula Al-Hafizh Ibnu Katsir, “(Orang yang) paling mulia di antara para sahabat bahkan paling mulia di antara seluruh makhluk setelah para Nabi adalah Abu Bakar, kemudian setelahnya Umar bin Khaththab, kemudian Utsman bin Affan, dan kemudian Ali bin Abi Thalib”. (Al-Ba’itsul Hatsis, 183)

Maka saudaraku… hendaklah kita bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan dan ketaqwaan sebagaiman dua sahabat Rasulullah, yakni Abu Bakar dan Umar. Kebaikan yang ditampakkan oleh keduanya bukanlah bermaksud untuk riya’ atau mencari sanjungan manusia dan dianggap mulia dihadapan manusia. Akan tetapi, kebaikan tersebut dilakukan semata-mata untuk mencari ridho Allah Ta’ala.

Maka saudaraku… dimanakah kita dari mencontoh para sahabat Rasulullah..? Sedangkan kita tahu tidak ada kebaikan pada diri kita dan umat ini kecuali dengan mencontoh dan meniru kebaikan orang-orang sebelum kita yaitu para sahabat Rasulullah dan seluruh salafush sholeh… Wallahu a’lam.. [Oleh: Ustadz Qutaibah]

Kisah Kematian Abu Jahal

Assalamu'alaikum wr. wb
Kisah-kisah Islam hadir kembali untuk pembaca sekalian.
Kesombongan Abu Jahal benar-benar melampaui batas. Abu Jahal telah menentang Nabi Muhammad SAW sedemikian ngototnya. Bahkan pada saat dirinya sudah sekarat luka parah terkena luka tusukpun masih sempat berkata sombong. Ia pun berhasil dibunuh oleh Ibn Mas’ud dan mati dan mati sangat mengenaskan.


Berikut Kisahnya..
Keangkuhan Abu Jahal bersama kaum musyrikin akhirnya berakhir dengan cara mengenaskan. Ia yang selalu menentang Rasulullah SAW akhirnya kalah dalam perang Badar. Dalam peperangan tersebut. Dalam peperangan tersebut, orang-orang Islam mendapatkan kemenangan besar, sementara kaum musyrikin banyak yang mati dan lari karena tak kuasa menahan serangan umat muslim.

Dikisahkan dalam pertempuran itu, Abu Jahal terjebak dalam kebingungan karena pasukannya kocar-kacir. Namun karena begitu besarnya rasa angkuh dalam dirinya, ia berdiri sambil berteriak dengan penuh kesombongan.

“Demi Latta dan Uzza, kami tidak akan kembali hingga kami mengikat Muhammad beserta para sahabatnya dengan tali dan janganlah seorang dari kalian merasa iba hanya dengan membunuh satu orang dari mereka. Berilah mereka pelajaran yang sebenarnya hingga mereka tahu akibat perbuatan mereka yang membenci agama kalian, “kata Abu Jahal.

Namun tak lama kemudian teriakan Abu Jahal pun lenyap seperti ditelan lembah BADAR. Abu Jahal terus mendapatkan perlawanan dari umat Islam hingga dalam kondisi terjepit.
 
“Apa yang terjadi dalam peperangan yang sengit ini terhadapku, aku ibarat anak dua tahun yang baru keluar giginya. Seperti inilah ibuku melahirkanku, “ujarnya tak berdaya.

Melihat Abu Jahal dalam kondisi bahaya, kaum musyrikin mengelilingi Abu Jahal. Mereka mengelilinginya hingga Abu Jahal persis berada di tengah-tengah bagaikan pepohonan yang mengelilingi hutan. Tapi dalam sekejap saja tubuh Abu Jahal ambruk ke tanah. Napasnya terengah-engah karena tusukan panah dan tebasan pedang dari pahlawan Islam.

Dalam kondisi sekarat, Abu Jahal pun menunggu detik-detik kematiannya yang sangat menyakitkan. Ia terkapar dan merasakan sebutuk-buruk penyiksaan.
Tatkala peperangan telah reda, kaum musyrikin lari dengan kekalahan. Sementara kaum muslimin bergembira atas kemenangan tersebut.
Rasulullah SAW bersabda,
“Siapa yang mau memperlihatkan kepada kami apa yang diperbuat Abu Jahal? “
Mendapatkan pertanyaan itu, Ibn Mas’ud berdiri dan bergegas pergi lalu mendapati Abu Jahal dalam kondisi lemah setelah dipukuli oleh dua putra Afraa Mu’awwidz dan Mu’adz.
Ibnu Mas’ud pun kemudian menarik jenggot Abu Jahal seraya berkata, “Apakah engkau Abu Jahal?”
“Giliran siapa ini, “kata Abu Jahal dengan sisa-sisa tenaganya.
“Allah SWT dan Rasul-Nya, bukankah Allah SWT telah menghinakanmu wahai musuh Allah? “jawab Ibnu Mas’ud.
“Apakah ada yang lebih hebat dari lelaki yang dibunuh oleh kaumnya sendiri? “jawab Abu Jahal dengan nada yang masih saja sombong.
Sesaat kemudian Abdullah pun membunuhnya kemudian mendatangi Raulullah SAW seraya berkata,
“Aku telah membunuhnya, aku telah membunuh Abu Jahal.”

Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Demi Allah yang Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.”

Beliau pun mengung-ulang ucapannya sebanyak tiga kali. Kemudian bersabda,
“Allahu Akbar, segala puji bagi Allah, Maha Benar Janji-Mya, menolong hamba-Nya dan memporak-porandakan pasukan, pergi dan perlihatkanlah padaku.”

Para sahabat kemudian bergegas pergi lalu memperlihatkan jasad Abu Jahal kepada Beliau. Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Inilah Fir’aunnya umat ini.”

Demikian kisahnya.
Wassalamu'alaikum wr.wb.

Doa dan Ruqyah Untuk Motor dan Mobil Baru


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Tradisi di sebagian masyarakat, jika seseorang beli kendaraan baru (motor atau mobil) ia mengadakaan selamatan. Ia mengundang tetangga-tetangganya untuk berdoa dan makan bersama. Tujuannya sebagai bentuk syukur atas nikmat yang baru didapat dan supaya kendaraan yang baru dibeli membawa kebaikan dan dijauhkan dari bencana.
Tulisan ini tidak menyoroti acara selamatan tersebut, tapi lebih ingin menyingkap bacaan doa atas kendaraan baru. Adakah doa yang baik untuk diucapkan atas kendaraan tersebut?
Terdapat sebuah hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً أَوْ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
Apabila salah seorang kamu menikahi wanita atau membeli budah hendaknya ia membaca, ‘Allaahumma innii as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltahaa ‘alaihi wa a’uudzu bika min syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa ‘alaihi’ (Ya Allah sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya).” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Keterangan yang lain, laki-laki meletakkan tangan kanannya di ubun-ubun istrinya seraya berdoa dengan doa di atas. Tambahan di Sunan Abi Dawud,
وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأْخُذْ بِذِرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ
Dan apabila ia membeli unta hendaknya memegang punuknya dan membaca seperti di atas.
Sedangkan mobil termasuk kendaraan, sefungsi dengan hewan kendaraan seperti unta, keledai dan lainnya. Karenanya, disunnahkan berdoa memohon kebaikan dan berlindung dari keburukan kendaraan yang baru dibelinya itu.
Berdoa memohon keberkahan pada kendaraan juga disyariatkan. Khususnya saat berharap kendaraan menjadi sarana Allah limpahkan kebaikan dan supaya dihindarkan dari pengaruh ain (pandangan mata yang buruk) yang berasal dari hati yang dengki.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ وَمِنْ نَفْسِهِ وَمِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ العَيْنَ حَقٌّ
"Apabila salah seorang kalian melihat kekaguman pada saudaranya, pada dirinya, dan hartanya, hendaknya dia mendoakan barakah untuknya, karena pengaruh 'ain itu benar adanya." (HR. Ahmad 3/447, al-Hakim 4/215 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam al Silsilah al Shahihah no. 2572 dan al Kalim al Thayyib no. 244)
Mengucapkan Maa Syaa Allahu Laa Quwwata Illaa Billaah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) juga dibolehkan, khususnya, saat dirinya takjub dengan keindahan nikmat barunya itu. Dalilnya, firman Allah Ta'ala dalam surat al-Kahfi,
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu Maa Syaa Allaah Laa Quwwata Illaa Billaah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)." (QS. Al Kahfi: 39)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Siapa yang melihat sesuatu yang membuatnya kagum, hendaknya dia berucap: Maa syaa Allaah Laa Quwwata Illa Billaah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) karenanya dia tidak tertimpa kedengkian 'Ain." (Hadits ini sangat lemah) Imam al Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari riwayat Abu Bakar al Hudzali, dia seorang yang sangat lemah. (Majmu' al Zawaid: 5/21.
Kesimpulannya, berdoa kepada Allah meminta kebaikan pada kendaraan yang baru dibeli dan dijauhkan dari keburukan yang ada padanya, itu dibolehkan. Di antaranya dengan doa-doa di atas, doa keberkahan, dan doa karena ta’ajub melihat keindahan kendaraan yang dimilikinya. Wallahu A’lam.

witir sebelum tidur bolehkah shalat tahajjud di akhir malam?

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Bagi siapa yang khawatir tidak bangun malam, maka dianjurkan untuk shalat witir sebelum tidur. Ini lebih memberikan jaminan baginya supaya tidak meninggalkan shalat witir di malam itu Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu berkata: أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَبِالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَبِصَلَاةِ الضُّحَى فَإِنَّهَا صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ "Kekasihku Shallallahu 'Alaihi Wasallam mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dari setiap bulan, shalat witir sebelum tidur, dan dari shalat Dhuha, maka sungguh itu adalah shalatnya awwabin (shalatnya orang-orang yang banyak taat kepada Allah)." (HR. Ahmad dan Ibnu Huzaimah. Dishahihkan Syaikh al-Albani di Shahih al-Targhib wa al-Tarhib) Bagi siapa merasa ‘yakin’ bisa bangun malam, terbaik baginya menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malamnya. Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, اِجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا "Jadikanlah shalat witir sebagai akhir shalatmu malam hari." (Muttafaq Alaihi) Sedangkan bagi seseorang yang sudah shalat witir sebelum tidur, lalu ia terbangun di akhir malam, bolehkah ia melakukan shalat tahajjud? Siapa yang terbangun di akhir malam padahal sudah witir sebelum tidur, ia tetap dibolehkan shalat tahajjud dua rakaat, dua rakaat. Witirnya cukup di awal tadi. Ia tidak boleh ulangi witirnya. Karena, tidak ada 2 witir dalam satu malam. Wallahu A’lam