Siapa yang tidak kenal dengan sahabat yang satu ini, sahabat
yang terkenal dengan kejujuran dan kebaikan serta kemuliaan akhlaq, baik dimasa
jahiliyyah, dan terlebih pada saat setelah datangnya hidayah Islamiyyah.
Nama asli beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr
bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib
Al-Qurasyi At-Taimy. Nasab beliau bertemu dengan nasabnya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek keenam, yaitu Murrah bin Ka’ab.
Bapak beliau, Utsman bin Amir, akrab dipanggil Abu Quhafah.
Ibu beliau adalah Ummul Khair yaitu Salma binti Shohr bin Amir. Berarti sang
ibu adalah putri pamannya (sepupu) bapak. Beliau dilahirkan dua tahun enam
bulan setelah Tahun Gajah. Dan beliau lebih dikenal dengan panggilan Abu Bakar
Ash-Shidiq.
Sejak Abu Bakar menjadi laki-laki pertama sekaligus manusia
kedua setelah Khadijah yang menyatakan keIslamannya dan pembenarannya kepada
Rasulullah, maka bisa kita ambil kesimpulan bahwa beliau adalah orang yang
selalu bersegera terhadap suatu kebaikan yang diyakininya.
Hal ini terbukti ketika semua penduduk Mekkah dari kalangan
petinggi-petinggi Quraisy hingga rakyat biasa menolak serta mencemooh kebenaran
Rasulullah, justru Abu Bakar tampil menjdi orang yang lantang menerima dan
membenarkan Rasulullah, sehingga gelar Ash-Shidiq yakni orang yang selalu
membenarkan Rasulullah pun melekat pada diri beliau.
Sungguh kebaikan pasti akan melahirkan kebaikan setelahnya.
Begitulah diri Abu Bakar. Setelah kebaikan menjadi orang yang terdepan masuk
Islam ada pada dirinya, lahirlah pada dirinya pula sikap selalu dibarisan
terdepan dalam segala kebaikan dan ketaatan.
Berbagai peristiwa besar, seperti kisah masuk Islamnya
banyak para sahabat juga lewat tangan Abu Bakar. Abu Bakar juga menjadi teman
hijrahnya Rasulullah ke Yatsrib atau sekarang yang lebih dikenal dengan nama
Madinah. Perang Badar, perang Uhud, Khaddaq, Fathu Makkah, perang Tabuk dan
perang lainnya telah menjadi saksi betapa gigihnya sahabat Abu Bakar
radhiyallahu ‘anhu yang selalu terdepan dalam segela bentuk kebaikan dan
ketaqwaan.
Dikisahkan bahwa Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar bin Khaththab
radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang gigih berlomba-lomba dalam amal kebaikan
yang mulia ini, yang pelakunya mendapatkan kebaikan besar di dunia dan banyak
pahala di akhirat.
Kisah Abu Bakar ini terjadi pada masa Abu Bakar Ash-Shidiq.
Pada saat itu, Umar mengamati apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, lalu dia
melakukan dua kali lipatnya sehingga dia mendapatkan kebaikan dan mendahului
Abu Bakar ke tingkat surga tertinggi.
Suatu hari Umar mengamati Abu Bakar Ash-Shidiq di waktu
fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran
kota Madinah setelah shalat Subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil
untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui
apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana.
Umar mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia
urusan gubuk itu.
Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar Ash-Shidiq tetap
mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar tetap belum mengetahui apa
yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk
masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin
melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Dia ingin
mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.
Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar
mendapatkan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga
buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar
tercengang dengan yang dilihatnya. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek
tua ini dengan Abu Bakar.
Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar)
di sini?”. Nenek tua itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai
anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia
menyiapkan makan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku”.
Umar menekuk kedua lututnya, kedua matanya basah oleh air
mata. Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh engkau telah membuat
lelah para Khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar”.
Sehingga tidak asing lagi bahwa dalam persaingan tersebut,
Abu Bakar lah yang selalu jadi pemenangnya. Bahkan dalam perang Tabuk, Umar
pernah berkata, “Hari ini aku pasti bisa mengungguli Abu Bakar:. Dia pergi
dengan membawa separuh hartanya kepada Rasulullah. Maka Rasulullah bertanya
kepadanya, “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?”. Umar menjawab, “Aku telah
menyisakan separuh harta bendaku untuk keluargaku”.
Tiba–tiba Abu Bakar datang membawa harta bendanya, lalu
meletakkannya di pangkuan Rasulullah. Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang
kamu sisakan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?”. Abu Bakar menjawab, “Aku telah
menyisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Umar pun sadar bahwa pada saat itu kebaikan Abu Bakar telah
mengungguli kebaikannya. Bukan hanya pada kali ini saja Abu Bakar selalu
mengalahkan Umar dalam masalah kebaikan.
Diriwayatkan pula, pada suatu hari setelah melaksanakan
shalat subuh, Rasulullah bertanya, “Siapakah di antara kalian yang melakukan
puasa di hari ini?”. Umar berkata, “Wahai Rasulullah, malam tadi aku tidak
berniat puasa sehingga sekarang aku tidak berpuasa”. Abu Bakar berkata, “Aku
wahai Rasulullah, malam tadi aku berniat berpuasa sehingga sekarang aku
berpuasa”.
Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang
hari ini menjenguk orang sakit?”. Umar berkata, “Sekarang kita hanya melakukan
shalat, bagaimana kita bisa menjenguk orang sakit?”. Abu Bakar berkata, “Wahai
Rasulullah, aku mendengar kabar bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sakit, lalu
aku menjenguknya kemudian baru aku datang ke masjid”.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melanjutkan
pertanyaannya, “Siapakah di antara kalian yang telah berderma di hari ini?”.
Umar berkata, “Wahai Rasulullah, kami masih selalu bersamamu, bagaimana kami
bershadaqah?”. Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, di saat aku akan masuk ke
masjid tiba-tiba ada orang yang meminta-minta, saat itu juga aku melihat putera
Abdurrahman bin Abu Bakar membawa sepotong roti, roti itu kemudian aku ambil
dan aku berikan kepada peminta-minta tersebut”.
Maka shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bergembiralah
dengan surga, bergembiralah dengan surga”.
Maashaa Allah… Betapa Allah memuliakan sahabat Abu Bakar
karena bersegeranya dalam segala macam kebaikan, sampai-sampai pada suatu hari
ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke Gunung Uhud dan bersama
beliau ada Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Maka Uhud bergetar, lantas Rasulullah
pun menenangkannya seraya mengatakan, “Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu ada
seorang Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid”. (HR. Bukhari, no. 3472)
Maka tidak berlebih-lebihan jika para penghuni langit dan
bumi menyanjung-nyanjung kebaikan amalnya bahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga
sepakat bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah adalah para sahabat dan
sebaik-baik sahabat adalah Abu Bakar dan Umar atas seluruh para sahabat.
Berkata Al-Imam asy-Syafi’i, “Tidak ada seorang pun yang
berselisih dari kalangan para sahabat dan tabi’in tentang keutamaan Abu Bakar
dan Umar atas seluruh para sahabat”. (Kitabul I’tiqad, 192)
Berkata pula Al-Hafizh Ibnu Katsir, “(Orang yang) paling
mulia di antara para sahabat bahkan paling mulia di antara seluruh makhluk
setelah para Nabi adalah Abu Bakar, kemudian setelahnya Umar bin Khaththab,
kemudian Utsman bin Affan, dan kemudian Ali bin Abi Thalib”. (Al-Ba’itsul
Hatsis, 183)
Maka saudaraku… hendaklah kita bersegera dan berlomba-lomba
dalam melakukan kebaikan dan ketaqwaan sebagaiman dua sahabat Rasulullah, yakni
Abu Bakar dan Umar. Kebaikan yang ditampakkan oleh keduanya bukanlah bermaksud
untuk riya’ atau mencari sanjungan manusia dan dianggap mulia dihadapan
manusia. Akan tetapi, kebaikan tersebut dilakukan semata-mata untuk mencari
ridho Allah Ta’ala.
Maka saudaraku… dimanakah kita dari mencontoh para sahabat
Rasulullah..? Sedangkan kita tahu tidak ada kebaikan pada diri kita dan umat
ini kecuali dengan mencontoh dan meniru kebaikan orang-orang sebelum kita yaitu
para sahabat Rasulullah dan seluruh salafush sholeh… Wallahu a’lam.. [Oleh:
Ustadz Qutaibah]